Sabtu, 23 Januari 2016

Karbohidrat

KARBOHIDRAT yaitu senyawa organik terdiri dari unsur karbon, hidrogen, dan oksigen. Terdiri atas unsur C, H, O dengan perbandingan 1 atom C, 2 atom H, 1 atom O. karbohidrat banyak terdapat pada tumbuhan dan binatang yang berperan struktural & metabolik. sedangkan pada tumbuhan untuk sintesis CO2 + H2O yang akan menghasilkan amilum / selulosa, melalui proses fotosintesis, sedangkan Binatang tidak dapat menghasilkan karbohidrat sehingga tergantung tumbuhan. sehingga tergantung dari tumbuhan. karbohidrat merupakan sumber energi dan cadangan energi, yang melalui proses metabolisme.

Banyak sekali makanan yang kita makan sehari hari adalah suber karbohidrat seperti : nasi/ beras,singkung, umbi-umbian, gandum, sagu, jagung, kentang, dan beberapa buah-buahan lainnya, dll.

Rumus umum karbohidrat yaitu Cn(H2O)m, sedangkan yang paling banyak kita kenal yaitu glukosa : C6H12O6, sukrosa : C12H22O11, sellulosa : (C6H10O5)n

Karbohidrat merupakan senyawa yang mengandung gugus fungsi keton atau aldehid, dan gugus hidroksi.
Ditinjau dari gugus fungsi yang diikat:
1. Aldosa: karbohidrat yang mengikat gugus aldehid. Contoh: glukosa, galaktosa, ribosa
2. Ketosa: karbohdrat yang mengikat gugus keton. Contoh: fruktosa

 

KLASIFIKASI KARBOHIDRAT :

 MONOSAKARIDA

Gula ini adalah karbohidrat terkecil yang berfungsi sebagai sumber energi dan karbon. Glukosa (C6H12O6) merupakan monosakarida yang paling umum ditemukan. Pada glukosa dapat ditemukan ciri khas gula yaitu meemiki gugus karbonil (COH, CO) dan gugus hidroksil (-OH).


. Glukosa
Glukosa dapat diperoleh dari hidrolisis sukrosa (gula tebu) atau pati (amilum). Di alam glukosa terdapat dalam buah-buahan dan madu lebah. Dalam alam glukosa dihasilkan dari reaksi antara karbondioksida dan air dengan bantuan sinar matahari dan klorofil dalam daun serta mempunyai sifat:
- Memutar bidang polarisasi cahaya ke kanan (+52.70)
- Dapat mereduksi larutan fehling dan membuat larutan merah bata
- Dapat difermentasi menghasilkan alkohol (etanol) dengan reaksi sebagai berikut:
C6H12O6 ==> 2C2H5OH + 2CO2
- Dapat mengalami mutarotasi

2. Fruktosa
Fruktosa adalah suatu ketoheksosa yang mempunyai sifat memutar cahaya terpolarisasi ke kiri dan karenanya disebut juga levulosa. Fruktosa mempunyai rasa lebih manis dari pada gula tebu atau sukrosa. Fruktosa dapat dibedakan dari glukosa dengan pereaksi seliwanoff, yaitu larutan resorsinol (1,3 dhidroksi-benzena) dalam asam clorida. Disebut juga sebagai gula buah, dperoleh dari hdrolisis sukrosa; dan mempunyai sifat:
- Memutar bidang polarisasi cahaya ke kiri (-92.40C)
- Dapat mereuksi larutan fehling dan membentuk endapan merah bata
- Dapat difermentasi

3. Galaktosa
Umumnya berikatan dengan glukosa dalam bentuk laktosa, yaitu gula yang terdapat dalam susu. Galaktosa mempunyai sifat memutar bidang cahaya terpolarisasi ke kanan. Pada proses oksidasi oleh asam nitrat pekat dan dalam keadaan panas galaktosa menghasilkan asam musat yang kurang larut dalam air bila dibandingkan dengan asam sakarat yang dihasilkan oleh oksidasi glukosa. Dapat diperoleh dari hidrolisis gula susu (laktosa), dan mempunyai sifat:
- Dapat mereduksi larutan fehling membentuk endapan merah bata
- Tidak dapat difermentasi

 

DISAKARIDA


Gula ganda dibentuk oleh dua molekul gula sederhana yang saling berikatan. Ikatan antara kedua gula sederhana ini dikenal sebagai ikatan glikosidik yang merupakan ikatan kovalen yang terbentuk melalui proses dehidrasi. Disakarida yang umum ditemukan adalah maltosa (glukosa dan glukosa), sukrosa (glukosa dan fruktosa), laktosa (glukosa dan galaktosa).

Disakarida adalah karbohidrat yang tersusun dari 2 molekul monosakarida, yang dihubungkan oleh ikatan glikosida. Ikatan glikosida terbentuk antara atom C 1 suatu monosakarida dengan atom O dari OH monosakarida lain. Hidrolisis 1 mol disakarida akan menghasilkan 2 mol monosakarida. Berikut ini beberapa disakarida yang banyak terdapat di alam.

1. Maltosa
Maltosa adalah suatu disakarida dan merupakan hasil dari hidrolisis parsial tepung (amilum). Maltosa tersusun dari molekul α-D-glukosa dan β-D-glukosa.


Struktur maltosa

Dari struktur maltosa, terlihat bahwa gugus -O- sebagai penghubung antarunit yaitu menghubungkan C 1 dari α-D-glukosa dengan C 4 dari β-D-glukosa. Konfigurasi ikatan glikosida pada maltosa selalu α karena maltosa terhidrolisis oleh α-glukosidase. Satu molekul maltosa terhidrolisis menjadi dua molekul glukosa.

2.Sukrosa
Sukrosa terdapat  dalam gula tebu dan gula bit. Dalam kehidupan sehari-hari sukrosa dikenal dengan gula pasir. Sukrosa tersusun oleh molekul glukosa dan fruktosa yang dihubungkan oleh ikatan 1,2 –α.


Struktur sukrosa

Sukrosa terhidrolisis oleh enzim invertase menghasilkan α-D-glukosa dan β-D-fruktosa. Campuran gula ini disebut gula inversi, lebih manis daripada sukrosa.

Jika kita perhatikan strukturnya, karbon anomerik (karbon karbonil dalam monosakarida) dari glukosa maupun fruktosa di dalam air tidak digunakan untuk berikatan sehingga keduanya tidak memiliki gugus hemiasetal.

Akibatnya, sukrosa dalam air tidak berada dalam kesetimbangan dengan bentuk aldehid atau keton sehingga sukrosa tidak dapat dioksidasi. Sukrosa bukan merupakan gula pereduksi.

 

 

 

 

 

 3.Laktosa
Laktosa adalah komponen utama yang terdapat pada air susu ibu dan susu sapi. Laktosa tersusun dari molekul  β-D-galaktosa dan α-D-glukosa yang dihubungkan oleh ikatan 1,4'-β.


Struktur laktosa

Hidrolisis dari laktosa dengan bantuan enzim galaktase yang dihasilkan dari pencernaan, akan memberikan jumlah ekivalen yang sama dari α-D-glukosa dan β-D-galaktosa. Apabila enzim ini kurang atau terganggu, bayi tidak dapat mencernakan susu. Keadaan ini dikenal dengan penyakit galaktosemia yang biasa menyerang bayi.

 

POLISAKARIDA

Polisakarida
Polisakarida adalah makromolekul, polimer yang tersusun dari ratusan atau bahkan ribuan monosakarida yang terikat melalui ikatan glikosidik. Beberapa polisakarida meemilki fungsi sebagai cadangan makanan dan ada pula yang berperan sebagai struktur yang melindungi sel atau tubuh suatu organisme secara keseluruhan. Contoh dari polisakarida adalah pati, selulosa dan glikogen.

 

Analisa kualiatif karbohidrat

1. Uji Molisch
- Prinsip reaksi ini adalah dehidrasi senyawa karbohidrat oleh asam sulfat pekat.
- Dehidrasi heksosa menghasilkan senyawa hidroksi metil furfural, sedangkan dehidrasi pentosa menghasilkan senyawa fulfural.
- Uji positif jika timbul cincin merah ungu yang merupakan kondensasi antara furfural atau hidroksimetil furfural dengan alpha-naftol dalam pereaksi molish.

 

2. Uji Seliwanoff
- merupakan uji spesifik untuk karbohidrat yang mengandung gugus keton atau disebut juga ketosa
- Jika dipanaskan karbohidrat yang mengandung gugus keton akan menghasikan warna merah pada larutannya.

 

3. Uji Benedict
- merupakan uji umum untuk karbohidrat yang memiliki gugus aldehid atau keton bebas
- Uji benedict berdasarkan reduksi Cu2+ menjadi Cu+ oleh gugus aldehid atau keton bebas dalam suasana alkalis
- biasanya ditambahkan zat pengompleks seperti sitrat atau tatrat untuk mencegah terjadinya pengendapan CuCO3
- uji positif ditandai dengan terbentuknya larutan hijau, merah, orange atau merah bata serta adanya endapan.

 

4. Uji Barfoed
- Digunakan untuk menunjukkan adanya monosakarida dalam sampel
- Uji positif ditunjukkan dengan terbentuknya endapan merah orange

 

5. Uji Iodin
- Digunakan untuk menunjukkan adanya polisakarida
- Amilum dengan iodine dapat membentuk kompleks biru
- Amilopektin dengan iodin akan memberi warna merah ungu
- sedangkan dengan glikogen dan dekstrin akan membentuk warna merah coklat

 

6. Uji Fehling

- Digunakan untuk menunjukkan adanya karbohidrat pereduksi (monosakarida, laktosa, maltosa, dll)

- Uji positif ditandai dengan warna merah bata

KROMATOGRAFI "SOP GC DAN HPLC"



PANDUAN PENGGUNAAN SIMULATOR KROMATOGRAF GAS

 
1.       TekanTombol  ‘GO”
2.       TekanTombol  “ Sample preparation”
3.       Pilih File,  klik OK
4.       Klik single sample atau
5.       Klik PURE, pilihsatusenyawa, laluklik “GO”. Ataupilih Mixture, lalu setting  persentasemasing-masingkomponen, laluklik GO
6.       Klik Select column and detector
7.       Pada column selection, pilih  column type yang diinginkan (pilihsalahsatuMegabore,  Capillarryatau packed),  danpilih Column Polarity, pilihsalahsatu Polar, non polaratau low polar).
8.       Setting injection volume
9.       Klik  Icon gas He, H dan Air     (Mensettingtekanan gas)
10.   Klik start (GC ON)
11.   Pilih detector yang dipakai detector FID atauatau TCD. Jika detector FID yang dipilihmakaharustekan “ignition” .LaluKlik “Go”
12.   Klik Temperature  column
13.   Klik “ Isothermal”  atau Program
14.   Setting suhu injector dan detector, sertasuhukolom. Janganlupaklik LOCK untuk setting temperature program
15.   Klik “Go”, laluklik “Manual Injection”.
16.   KlikIntegrator ,pilih Smart  atau Dumb.
17.   KlikAtenuator, Pilihnilai yang diinginkan
18.   Klik “ Inject”
19.   Tunggusampaihasilanalisisselesai. Catat   Retention Time  danluas area.
20.   Jikainginmenginjeksampellainnya. Klik GO danklik icon sample preparation ,laluklik NEW FILE, danlangkahselanjutnyasamaseperti point 3. Jikaprogramnyasamamakadapatlangsungmenuju point 15 dan 17.
21.   Setelahanalisisselesai. Alat gas kromatografdimatikandengancara
22.   Setting suhukolom 30 oC, detektordaninjektor 80 0C. (program cooling down)
23.   Setelahsetting  suhukolom, detector dan injector tercapai. Makaaliran gas Hidrogendanudaradimatikan. Setelahitu gas helium. Lalualat gas kromatograf di matikanpada menu main power


 
PANDUAN PENGGUNAAN SIMULATOR KROMATOGRAF HPLC

 
1.       Pada menu HPLC TekanTombol“SAMPLES”
2.       TekanTombol  “ NEW VIALS”, lalu OK
3.       Klik   “Add Standard”. Pilih senyawa dan  masukkan nilai konsentrasinya (bisa lebih dari satu senyawa). Lalu  klik OK
4.       Pada menu HPLC Klik“Solvent” , lalu pilih solven yang ingin dipergunakan  lalu klik “OK”
5.       Pada menu HPLC , KlikColumns,  lalu pilih kolom yang ingin dipergunakan , Klik OK
6.       Pada menu HPLC  Klik“detector”, lalu pilih mode detektor yang ingin dipakai  dan panjang gelombangnya serta sensitivitasnya.  Lalu klik  “done’
7.       Pada menu HPLC, klik control panel. Lalu ON kan power untuk mengaktifkan sistem  dan klik “Run” pada menu pumps serta pilih Isokratik atau gradient pada menu  mode, misalnya isokratik. Kemudian atur Laju alir fase  gerak  misalnya 1 mL/menit; persentase solven misalnya 85%, dan volume injeksi misalnya 15 uL.
8.       Lalu klik “inject sample”. Maka hasil analisis akan ditampilkan dalam bentuk kromatogram, jika ingin menginjek lagi dengan kadar  fase gerak  yang berbeda dapat dilakukan dengan mensetting kembali  persentasenya, lalu inject sample kembali.
9.       Jika analisis sudah selesai , klik “done”. Kembali ke menu utama
10.   Kromatogram yang dipoeroleh dapat diolah lebih lanjut menggunakan COMPUTER DATA SYSTEM JIKA DETEKTOR YANG DIPAKAI ADALAH DIODE ARRAY.
11.   Pada menu HPLC  Klik “ computer data system”. Lalu pada menu HPLC CDS, klik “instrument”, lalu klik “instrument display status”. KLIK  OK.
12.   Klik pada menu instrumen, lalu klik “inject sample”. Lalu done
13.   Klik  File , klik save chromatogram (menyimpan data). Klik OK
14.   Klik DATA, klik View  untuk merescale  tampilan kromatogram
15.   Klik Data , klik integration report untuk melihat RT, luas area dan luas area relatif.
16.   Klik Data, klik compare two chromatogram. Pilih file yang ingin dibandingkan . klik OK
17.   Klik DATA, klik Diode ARRAY Option. Lalu  pilih menu chromatogram at given wavelength untuk melihat spektrum pada panjang gelombang tertentu.
18.   Klik DATA, klik Diode ARRAY Option. Lalu  pilih menu UV spektrum  at given elution time untuk membandingkan dengan spektra referensi yang lain dengan cara klik “ referrence spectra library”. Klik view lalu OK.
19.   Klik DATA, klik Diode ARRAY Option. Lalu  pilih “3 D Perspective surface plot” untuk melihat spektrum 3 dimensi.
20.   Jika sudah selesai dengan program CDS. Klik exit.








kumpulan soal gravimetri



LATIHAN SOAL – SOAL 

  1. Hitung konsentrasi HCl pekat dalam (N; ppm (mg/L); dan M) dari HCl 75 % (b/v)!
a. Berapa mL HCl pekat  75 % (b/v) yang dibutuhkan untuk membuat 500 mL  HCl
1,0 M?
b.Berapa mL volume  air yang ditambahkan untuk membuat larutan HCl yang sesuai kondisi  pada soal (1.a) 

  1. Sebanyak 150 g garam NaCl dilarutkan dalam labu takar 500 mL, kemudian setelah dihimpitkan / ditera dipipet sebanyak 50 mL, dimasukkan ke dalam labu takar 200 mL lalu dihimpitkan. Hitung konsentrasi  Cl dalam  NaCl dalam satuan persen (%),  ppm, dan Molaritas (M)
a. sebelum dilarutkan 
b.setelah dilarutkan,  
c. dan setelah diencerkan ? (Ar Cl = 35,5)!

  1. Ke dalam 100 mL larutan AgNO3 0,06   M ditambahkan 100 mL larutan Na2C2O4 0,07 M  :
a.   Tuliskan reaksi yang terjadi dan ramalkan apakah akan terbentuk endapan perak oksalat atau tidak?? (buktikan!)
b.   Jika terbentuk endapan perak oksalat, hitung gram perak oksalat yang terbentuk?
c.    Berapa mg perak yang tidak terendapkan?
      (Ksp Ag2C2O4 = 5 x 10-12 ) 


  1.  Penetapan kadar aluminium dalam aluminium sulfat  secara gravimetri.  Adapun cara kerja yang dilakukan sebagai berikut ; sampel aluminium sulfat ditimbang sebanyak 1,5025 g, kemudian dilarutkan dengan penambahan asam sulfat (1:1) 25 mL. Larutan dipanaskan, diaduk sampai sampel menjadi bubur, kemudian dibiarkan sampai dingin dan ditambah air panas 25 mL, lalu disaring dengan kertas Whatman 42 dan filtratnya ditampung secara kuantitatif dalam labu takar 100 mL dan residunya dibilas dengan air suling sampai filtratnya netral kemudian ditera dengan air suling. Dipipet 25 mL filtrat tersebut ke piala gelas dan diencerkan sampai 100 mL, lalu ditambahkan 1 mL H2O2 30% dididihkan dan ditambah 10 mL natrium hidroksida 10% didihkan lagi. Kemudian disaring dan dicuci dengan air panas, filtrat hasil saringan diasamkan dengan 5 mL HCl (1:1), ditambah 5 gram NH4Cl dipanaskan hampir mendidih (80oC). Setelah itu ditambahkan 10 mL  NH4OH (1:1), dididihkan, endapan yang diperoleh sebagai aluminiumhidroksida disaring, dicuci dengan larutan panas yang mengandung 10 gram NH4Cl dan beberapa tetes NH4OH. Endapan dan kertas saring dikeringkan, diarangkan, dan diabukan pada suhu 1100oC selama 2 jam dalam tanur.  Terakhir endapan/abu/residu sebagai aluminiumoksida didinginkan dalam desikator, lalu ditimbang, ternyata bobot residu yang diperoleh setelah pemijaran sebesar 0,4075 g

a.        Buatlah skema/alur kerja dari cara kerja pada soal !!!
b.       Tuliskan prinsip penetapan kadar aluminium dalam sampel tersebut!!!
c.        Tuliskan reaksi pengendapan dan reaksi pemanasan residu yang diperoleh !!!
d.       Hitunglah kadar (% b/b) aluminium dalam sampel dengan 2 cara (konsep mol secara stoikiometri dan menggunakan rumus secara langsung)


  1.  Seorang analis menetapkan kadar magnesium dalam sampel pupuk dolomit secara gravimetri sebagai berikut :

Ditimbang teliti 0,5000 gram sampel pupuk dolomit, dilarutkan dalam piala gelas sampai 100 mL dengan aquades yang ditambahkan asam klorida (1:4) sampai sedikit asam (ditambah 2 tetes indikator merah metil), selanjutnya ditambah 20 mL amonium hidrogen posfat dan ditambahkan amonium hidroksida 20% berlebih sambil diaduk. Larutan tersebut dibiarkan selama 4 jam atau lebih, sehingga terbentuk endapan magnesium amonium posfat, kemudian endapan tersebut  disaring dan dicuci dengan amonium hidroksida. Kertas saring dan endapan dikeringkan, diarangkan, dan dipijarkan sampai suhu 1000oC. Abu yang diperoleh sebagai Mg2P2O7 didinginkan dan ditimbang. Bobot endapan (abu) yang diperoleh setelah pemijaran sebanyak 0,4950 gram.
a.          Buatlah skema/alur kerja dari cara kerja pada soal no. 2 dengan singkat dan jelas!!!
b.         Tuliskan prinsip penetapan kadar magnesium dalam sampel pupuk dolomit sesuai cara kerja yang dilakukan analis tersebut !!!
c.          Tuliskan reaksi yang terjadi pada pengendapan !!!
d.         Tuliskan reaksi yang terjadi pada pemijaran !!!
e.         Hitung % kadar magnesium dalam sampel dolomit tersebut !!!
f.           Bagaimana cara Anda untuk mengurangi kopresipitasi yang dapat terjadi pada penetapan magnesium dalam sampel pupuk dolomit  tersebut???